Demam Televisi Berbayar

3189847pMinggu, 8 Februari 2009 | 01:26 WIB Lusiana Indriasari & Susi Ivvaty

Televisi berbayar ”mewabah” di mana-mana. Bukan hanya mereka yang tinggal di rumah-rumah mewah, masyarakat di pelosok kampung atau rumah susun pun kini bisa menjangkau siaran televisi luar negeri. Boleh dibilang televisi berbayar kini ”merakyat”. Dulu karena biayanya mahal, fasilitas televisi berbayar ini hanya mampu dinikmati masyarakat kelas atas saja. Sekarang, dengan biaya berlangganan Rp 60.000-Rp 300.000 per bulan, televisi berbayar menjadi lebih mudah dijangkau kalangan menengah bawah. Apalagi sekarang ini ada iming-iming gratis biaya pemasangan serta peminjaman dekoder tanpa biaya jaminan. Nono (34), warga Kampung Pasir Gadung, Cikupa, Tangerang, sejak satu tahun lalu sudah berlangganan Indovision. Pria yang bekerja sebagai pengawas di sebuah pabrik di Tangerang itu mengenal Indovision ketika sedang ada promosi di sebuah pusat perbelanjaan di Tangerang. ”Saya tertarik karena waktu itu ditawari berlangganan tanpa biaya pemasangan. Karena siaran televisi di rumah saya ’banyak semutnya’, saya mencoba pasang Indovision,” tutur Nono. Dengan gaji sekitar Rp 2,5 juta per bulan dibantu istrinya yang berdagang, Nono tidak keberatan membayar uang langganan Rp 149.00 per bulan. Di Palembang, televisi berbayar juga gencar dipromosikan dari kelurahan ke kelurahan dan juga di lingkungan perumnas. Yang melakukan promosi adalah ICON, anak perusahaan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Sebelum Palembang, ICON sudah berpromosi di seluruh Jawa, Kalimantan, Batam, Lampung, Jambi, dan Medan. ICON menyediakan jaringan televisi kabel yang digabungkan dengan internet. Jaringan kabel itu disambungkan ke rumah-rumah warga yang ingin berlangganan. Tanpa harus menggunakan dekoder, warga bisa menikmati acara televisi luar negeri hanya dengan merogoh Rp 80.000 per bulan. Banyak operator Beberapa tahun belakangan semakin banyak operator televisi berlangganan di Indonesia. Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Amar Ahmad, mengatakan, sejak tahun 2006 ada 30 permohonan izin penyiaran televisi berbayar. Saat ini sudah ada tujuh operator televisi berbayar yang beroperasi, yaitu Indovision, Kabel Vision (sekarang bernama First Media), IM2, Aora, Telkomvision, Oke Vision, dan Direct Vision. Menurut data Asosiasi Penyelenggara Multimedia Indonesia (APMI), potensi pelanggan televisi berbayar mencapai 10 juta penonton. Jumlah ini hanya untuk penonton kelas A dan B (menengah atas) saja. Menurut Arya Mahendra Sinulingga, Sekretaris Jenderal APMI, dari total potensi itu baru 7 persen saja yang tergarap atau sekitar 700.000 pelanggan. Operator televisi berbayar juga mulai mengarah penonton kelas B dan C. Indovision, misalnya, sejak April 2008 meluncurkan Top TV yang harga berlangganannya lebih murah dari Indovision, yaitu Rp 85.000. Dari tahun ke tahun, jumlah pelanggan televisi berbayar terus naik. Indovision sekarang sudah memiliki 480.000 pelanggan, Telkomvision 220.000 pelanggan, sedangkan pelanggan First Media sebanyak 125.000 pelanggan. Untuk menarik pelanggan, berbagai cara dilakukan, termasuk membuat paket-paket yang disesuaikan dengan kantong pelanggan. Telkomvision menyediakan paket prabayar dengan sistem voucher Rp 30.000-Rp 300.000. Adapun Indovision dan First Media menyediakan paket-paket dengan sistem abonemen. Kunci parental Televisi berbayar membuat dunia seakan menyempit. Dengan fasilitas serba murah, Nono dan orang-orang di kampungnya disuguhi aneka tayangan yang mendidik sekaligus mengumbar gaya hidup. Untuk mencegah anak-anak menonton tayangan yang tidak pantas, televisi berbayar biasanya dilengkapi fasilitas kunci parental. Kunci parental ini bisa diatur dari pengendali jarak jauh (remote control). Sayangnya, tidak semua orang bisa menggunakan fasilitas ini karena tidak tahu cara mengaturnya. Selain Indovision, operator televisi berbayar First Media juga membentengi anak-anak dengan kunci parental. Dengan teknologi jaringan kabel, First Media berkomitmen menggarap pasar keluarga.

sumber :  http://cetak.kompas.com

Posted on 9 Februari 2009, in elektronika, televisi, tv kabel and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: